Sepenggal kisah itu ternyata tidak benar-banar hilang. Dia hanya terlupakan sejenak karena kesenangan hari yang membuncah namun kala hari berganti, penggalan-penggalan itu kembali menguak pikiran. Kebersamaan sesaat. Perkenalan yang tidak disengaja pada waktu yang salah. Yah, begitulah ku menyebutnya. Kesempatan yang tersia-sia karena keangkuhan yang egois lalu perlahan sang waktu tak lagi mau berpihak pada kita. Waktu tlah jauh meninggalkan kita namun seakan semuanya baru terjadi kemarin. Pandangan itu seakan baru dilayangkan kemarin, aku merindukannya. Senyum yang tersungging, semua tawa riang dan... dan kata-kata itu yang pernah membuatku terpaku dalam kesedihan, semuanya masih ada dan masih sangat jelas diingatan. Tahun-tahun yang kita lalui setelah itu pun adalah sia-sia karna kita terus dan terus saja mencari sampai sekarang dan entah sampai kapan. Apakah kita memang terlalu bodoh untuk mengartikan maksud Tuhan? Dia mungkin tlah memberikannya untuk kita kecapi tapi pikiran kita sendiri yang menganggap itu bukan waktu yang tepat. Sesungguhnya hanya Allah yang Maha Pengasih yang tau kapan waktu yang tepat itu dan bila waktu itu tiba Dia akan memberikannya. Hmmm.. Mungkin saja seperti itu...
Kupikir keputusan yang kuambil waktu itu adalah akhirannya, namun ternyata semua belum berakhir. Aku hanya pergi dan tidak memenangkan apa-apa. Pertanyaan demi pertanyaan kembali mencoel hatiku, menantang untuk kembali.
"Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat engkau"
Bagian terkecil dari sebuah perjalanan singkat yang pernah kulalui.
1 comment:
kok gw pengen nangis baca ini ya..huhuhuhu
Post a Comment